Kategori
Sebuah perjalanan

Jelajah Air Terjun Coban Asmoro Jarak Wonosalam

Gunung Anjasmoro, pegunungan yang mencakup wilayah Jombang, Mojokerto, Kediri, Malang, terbentang luas. Pegunungan yang di kalangan pendaki memiliki banyak puncak, mulai dari puncak Jengger, puncak Cemoro Sewu, puncak Top Anjasmoro, puncak Kemukus, puncak Gede, puncak Tapak Bunder dan masih banyak puncak lain yang belum tersentuh.

Adapun beberapa air terjun yang mengalir di lereng pegunungan Anjasmoro, mulai dari air terjun Tretes yang berlokasi di Pengajaran, Banjardowo, Wonosalam Jombang, yang terkenal dengan luas dan ketinggiannya, Coban Talun, Coban Pengayom, Air Terjun Selolapis, Coban Sepukul, Coban Watu Ondo Cangar, Coban Baraan Kasembon, dan masih banyak lagi yang belum tersebut.

Pada kali ini penulis ingin membagi hasil eksplorasi ke daerah Jarak Wonosalam Jombang. Di daerah tersebut ternyata menyimpan sebuah harta tersembunyi, berupa destinasi wisata alam Air Terjun Coban Asmoro, atau Coban Grenjengan, atau mungkin disebutkan dengan nama lain yang penulis sendiri masih belum hafal. Pada air terjun ini, merupakan mata air bagi daerah Jarak dan sekitarnya , untuk itu mata air yang ada sangatlah jernih, karena masih satu kawasan dengan puncak tertinggi gunung Anjasmoro.

Untuk mengakses informasi terkait air terjun yang masih alami ini, kami mulai dengan GPS (gunakan penduduk sekitar), mengingat akses lokasi yang belum terkenal.

Pada saat sampai di pemukiman terakhir, langsung saja bertanya kepada penduduk untuk akses ke lokasi air terjun ini. Untuk selanjutnya bisa menitipkan motor atau kendaraan di rumah warga, tanpa tarif masuk, cukup parkir dengan biaya seikhlasnya.

Akses menuju lokasi masih dominan menanjak, melewati beberapa pertigaan. Namun di pertigaan tersebut, ada penunjuk arah, dominasi ke arah turun. Praktis pemandangan yang indah di depan mata, hutan yang masih asri, puncak-puncak bukit atau gunung.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, kita akan menemukan hutan bambu yang menandakan bahwa perjalanan semakin dekat dengan lokasi. Terdengar suara gemericik air dari kejauhan, dominan tanaman bambu dan jalur yang awalnya makadam berubah jadi tanah. Kita perlu berhati-hati saat di jalur ini, masih banyak Pacet dan tanaman gatal yang berada di sepanjang jalur.

Tak berapa lama, akhirnya tibalah di lokasi yang dituju. Coban setinggi kurang lebih 15 meter dari jatuhnya air. Anggun dan tegas, guratan batu di alur air pada didnding coban. Kanan kiri adalah tanaman pakis dan sebagian bambu, ada beberapa tanaman anggrek yang mana juga bagian dari usaha mahasiswa yang pernah KKN di tempat tersebut.

Tips hiking jelajah Coban Asmoro.

1. Sebaiknya jelajah pada saat tidak hujan.

2. Gunakan sepatu, menghindari gigitan pacet.

3. Selalu bertanya kepada warga, menghindari salah arah.

4. Penitipan sepeda atau motor di rumah warga.

5. Informasi dan guide bisa menghubungi wa +6285648655502 (Ridlo) atau +6283117738735 (Mas Iko)

(add)

Video jelajah kami.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puthuk Gragal dan Air Terjun ‘Mata Air 2’ via Cembor Pacet Mojokerto

Puthuk Gragal, mungkin sebuah tujuan pendakian yang masih jarang didengar. Puthuk ini sendiri memang baru saja dibuka oleh pengelola, sehingga namanya masih asing di kalangan pendaki.

Puthuk Gragal merupakan salah satu dari jajaran puthuk yang ada di kaki gunung Welirang. Pantas saja, ketika Anda sudah berada di puthuk ini, masih bisa melihat dengan jelas puncak Puthuk Siwur dan Gunung Pundak.

Puthuk Gragal dengan ketinggian sekitar 1480 Mdpl, terletak di sisi kiri Puthuk Siwur. Dengan namanya gragal, otomatis mewakili keadaan puthuk ini, yang berupa bebatuan yang ada di dataran tinggi.

Puthuk yang menawarkan view yang amat indah ini diakses melalui jalur pendakian via Cembor Pacet. Dari Pacet cukup ke daerah Claket, melewati gerbang wisata tetap lurus, sampai akhirnya di desa Cembor, ada tulisan Jalur Pendakian Puthuk Gragal.

Pendakian Puthuk Gragal dimulai melalui masjid Cembor, kita parkir motor, tak jauh dari masjid tersebut. Kemudian kita harus mendaftarkan diri ke pihak pengelola yang kantornya sementara ada di bawah masjid. Untuk tarif per orang Rp 10.000,00 dan parkir motor juga dengan tarif yang sama.

Pada awal jalur pendakian kita melewati lingkungan warga, naik sedikit ke arah saluran air. Kita akan menemukan vegetasi bambu di kiri jalan. Di kanan jalan terdapat selokan air yang terjaga kebersihannya. Kami pun dipesani oleh pengelola agar tidak membuang sampah atau kencing di sekitar saluran air.

Melewati jalur datar hingga melewati jelmbatan sungai besar, berarti kita sudah dekat dengan pos satu. Kita akan melewati jalur menanjak, ada tulisan pos satu Watu Ceper.

Tak berhenti lama, kami lanjutkan perjalanan. Jalur mulai agak menanjak, medan pendakian melewati vegetasi hutan yang masih asri. Beberapa kesempatan kami melihat satwa malam, memang jalur ini masih terkesan alami jarena baru dibuka. Saat berjalan kita akan mendengar gemericik suara air, karena dekat dengan sungai.

Perjalanan menuju pos 2 memang lebih menyuguhkan jalur yang menantang. Vegetasi yang cukup rapat, menandakan kita melewati bukit Sambilu. Pos 2 sudah terlihat, tanah datar yang tepat untuk area camp atau beristirahat sejenak.

Trek kembali menantang, menghadirkan tanjakan yang dinamai dengan Tanjakan OPO. Tanjakan ini hampir miring sekitar 45-60 derajat, otomatis kita akan bertanya, “Kenapa kita harus melewati tanjakan ini?”

Tapi tenang saja, pihak pengelola sudah membantu pendaki dengan alternatif jalur tanjakan zig zag yang lebih mudah daripada harus melewati tanjakan OPO.

Trek yang menanjak tak berhenti di situ. Setelah melewati tanjakan OPO, kita disuguhi jalur butan Genjret yang cukup melelahkan. Di jalur ini benar-benar menghadirkan jalur yang seharusnya lebih mirip jalur ke puncak gunung, bukannya puthuk.

Berjalan beberapa saat melalui tanjakan yang melelahkan, kami sampai di pos 3 hutan Genjret.

Di pos ini, kita bisa bersantai sejenak. Adapun bila membutuhkan air, kami menemukan sebuah pipa yang berlubang dengan aliran air yang cukup deras. Biasanya pipa tersebut dipakai oleh pendaki untuk mengisi air menggunakan selang kecil yang ada di sekitar lokasi.

Tanjakan demi tanjakan masih juga kami temukan. Sejenak trek datar lalu sudah menanjak kembali.

Berjalan beberapa saat kami tiba di sebuah tanah datar menandakan bahwa kami sudah sampai di pos 4, pos tanjakan Celeng. Di pos tersebut akan kita temui jalur ke bawah menuju mata air dua (air terjun), namun oleh pihak pengelola hanya disarankan mengisi air saat pagi saja, trek menuju lokasi air sangat licin dan menantang.

Tanjakan Celeng benar-benar berupa tanjakan yang tidak ada hentinya. Tanjakan ini sangat menguras tenaga. Beberapa kali kami terpeleset di tanjakan ini. Ketika melewati tanjakan inj, vegetasi berubah yang tadinya rimbun menjadi agak berkurang, hingga angin malam benar-benar terasa kencang saat kita lewati .

Akhirnya, setelah perjuangan tersebut, sampailah di lahan datar berupa area Camp.

Di area ini kami mendirikan tenda, meski kontur tanah bervariasi, mulai dari yabg datar, setengah datar, dan miring. Kita harus jeli memilih lokasi mendirikan tenda, agar tidur tetap nyaman. Sebenarnya lokasi camp ini sudah dekat dengan puncak, namun disarankan oleh pengelola agar mendirikan tenda di area camp menghindari angin kencang.

Sejenak kami berfoto mengambil gambar pemandangan yang cukup mewah, dari kejauhan tampak Penanggungan dan belakang nampak Welirang dengan gagah menjulang.

Spot foto yang teramat luas, tak ada habisnya. Pantas saja, perjuangan yang sudah dilalui memang menghasilkan sesuatu yang nampak amat memuaskan bagi kami.

Adapun pada perjalanan kami sempatkan menuju lokasi air terjun di pos 4. Memang air terjun tersebut sangat indah, dengan air yang sangat jernih dan suasana yang sejuk.

“Puthuk dengan perjalanan rasa gunung”, memang tepat kami sematkan julukan tersebut pada Puthuk Gragal. Puthuk yang menarik, menawarkan keindahan yang tiada tara.

Tips pendakian Puthuk Gragal.

1. Hampir di semua trek kami temukan mata air, apalagi jika perjalanan dilakukan di pagi hari. Batas mata air ada di pos 4, untuk itu penting sekali mengisi persediaan air selagi ada di pos 4.

2. Lokasi camp terakhir ada di camp area sebelum puncak.

3. Hindari mendirikan tenda di puncak, mengingat angin kencang yang sangat membahayakan bagi pendaki.

4. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi pihak pengelola.

5. Keterbutuhan guide dan porter bisa menghubungi wa +6283117738735.

Untuk video pendakian pada link youtube berikut.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puncak Awang-awang Penanggungan via Kesiman

Gunung Penanggungan merupakan gunung favorit para pendaki di Jawa Timur. Gunung yang terletak di kabupaten Mojokerto & Pasuruan ini memiliki beberapa jalur pendakian, baik jalur Jolotundo & Tamiajeng yang sudah cukup dikenal. Adapun jalur lain yang masih belum begitu familiar yakni jalur Kesiman, jalur Tlogo, jalur Kunjorowesi, dan jalur Kedungudi.

Jalur yang akan kita lewati kali ini adalah jalur Kesiman yang berada di Dusun Sukoreno, Desa Kesiman, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Jalur ini terkesan masih sepi, bahkan pada hari libur sekalipun. Jadi, sangat direkomendasikan bagi pendaki yang ingin mendaki gunung Penanggungan, melewati jalur ini, bagi yang ingin bercengkrama dengan suasana yang syahdu.

Di awal perjalanan, trek melewati bekas galian & lahan pertanian warga. Kami mengikuti petunjuk yang ada, plakat dan penunjuk arah dari plastik dan plakat yang disediakan pengelola Treppa Jr.

Suasana siang itu cukup panas, awal pendakian melewati lahan yang didominasi ilalang yang cukup luas Adapun dari basecamp, tempat parkir, pos yang kami tuju pertama kali adalah pos Nomor Siji. Penamaan pos di jalur ini memang aneh, penamaan pos di sana agak berbeda dari pada jalur Penanggungan yang lainnya.

Dari pos Nomor Siji, perjalanan masih melalui trek yang landai, namun tidak begitu terik jalurnya, mulai ada pepohonan di sepanjang jalur. Pada kanan kiri jalan, didominasi oleh tumbuhan bambu dan pohon randu yang cukup rindang.

Setelah berjalan sepuluh menit dari pos Nomor Siji, sampailah kami di pos Leses. Di pos ini, terdapat shelter yang disediakan oleh pihak pengelola.

Setelah pos Leses, jalur mulai agak menanjak. Trek masih berupa tanah dengan variasi beberapa kerikil yang cukup membuat licin jika terinjak sepatu. Berjalan sesaat, akhirnya sampai di pos Marhalan yang tak jauh dari pos Leses. Di pos tersebut tidak kita temui shelter, hanya batang pohon roboh sebagai tempat duduk sejenak.

Perjalanan dilanjutkan, setelah itu kita akan memasuki hutan bambu. Pada perjalanan, fokus pendaki pada petunjuk arah harus tetap terjaga. Hal ini karena banyak perempatan ke arah gunung dan bukit di sekitar Penanggungan.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Tidak butuh waktu lama, kami sampai di pos Sinceng. Di pos ini terdapat perempatan ke arah sungai kering dan bukit sekitar Penanggungan.

Setelah berjalan melewati pos Sinceng, rasanya seakan trek tidak ada hentinya. Kalau kita merasakan, memang perjalanan terkesan cukup panjang. Trek yang menanjak mendominasi sejak pos Sinceng. Dari pos tersebut, tak butuh waktu lama. Akhirnya sampailah kami di pos 1 yang sebenarnya. Di pos ini terdapat lahan yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Dominasi trek selanjutnya tetap menanjak. Hal ini tidak bisa dipungkiri. Bahkan trek ini lebih sensitif jika dipijak daripada trek sebelumnya. Seringkali trek tersebut membuat pendaki terpeleset.

Beberapa tanjakan terkesan masih wajar. Memang tergolong sebagai trek yang tidak sederhana. Daun yang menutupi trek terkadang membuat pijakan kurang mencengkram tanah dan kerikil yang akhirnya membuat keseimbangan tubuh kurang baik.

Setelah berjalan sesaat, akhirnya kami sampai di pos Dangcici. Di pos tersebut tidak ada shelter, hanya lahan datar yang tidak terlalu luas.

Di atas pos Dangcici, terdapat sebuah petilasan di tepi trek. Kami tidak lama di sini, karena yang kami rasakan agak lain. Bahkan terkadang rasanya suasana cenderung tidak seperti yang kami inginkan.

Beberapa saat kami berjalan dari pos sebelumnya, berjalan 30 menit, kami sampai di pos Sebacang. Di pos ini tidak terdapat lahan yang luas, hanya sedikit datar namun sejuk karena terdapat pohon yang rindang.

Tak lama berjalan, kami sampai di pos 2. Pos ini memberikan petunjuk kepada kami bahwa tanjakan selanjutnya adalah tanjakan yang diberi nama Tanjakan Idiot.

Benar saja, memang petunjuk tak pernah bohong. Ujian yang sesungguhnya dimulai. Kami dihadapkan pada sebuah plakat, petunjuk plakat arah tanjakan Idiot. Memang benar-benar dikuras tenaga kami di tanjakan ini. Trek berubah, melewati batuan yang menjadi jalan yang cukup licin.

Trek berbatu di tanjakan Idiot cukup melelahkan. Hampir terpeleset beberapa kali, kami berjalan dengan hati-hati. Di tanjakan ini, batuan yang dilewati cukup tajam, maka dari itu harus waspada saat berjalan.

Setelah berjalan sesaat, kami melewati latar Babi yang sangat direkomendasikan sebagai tempat camp, karena di tempat ini terdapat lahan bertingkat yang cukup datar dan luas.

Adapun tempat camp di atasnya, pos Selo Munggal yang memang disediakan area camp bagi pendaki. Mungkin hal tersebut untuk mengantisipasi keberadaan para pendaki, agar tidak berdesakan pada saat mendirikan tenda.

Perjalan yang kami hadapi belum berakhir. Suhu saat itu panas, apalagi jalan semakin menanjak, melewati beberapa tumbuhan Edelweis putih. Akhirnya kami melewati tanjakan sebelum puncak, yang memang menawarkan keindahan pemandangan kota di sisi lain gunung Penanggungan. Tak butuh waktu lama. Kami tiba di Puncak Awang-awang Penanggungan dengan selamat.

Perlu diketahui, Puncak Awang-awang memiliki banyak tempat camp, bahkan di atasnya terdapat tempat lahan datar untuk mendirikan tenda. Dari Puncak Awang-awang terlihat puncak gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno Welirang dari kejauhan.

Sejenak kami berfoto dan melepaskan lelah. Menikmati snanck dan minuman ringan sambil melihat pemandangan kota yang terlihat sangat kecil dari sini.

Jalur Kesiman Prigen adalah jalur yang cukup menarik dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan jalur ini memang sangat menarik untuk dicoba. Terlebih, semakin membludaknya pendaki via jalur lain, maka perlu untuk mempertimbangkan jalur Penanggungan via Kesiman Prigen lewat Puncak Awang-awang ini, apabila ingin suasana tenang dan sepi, serta pengalaman jalur yang menantang untuk dilalui.

Tips pendakian.

1. Hindari pendakian malam hari.

2. Tidak ada sumber air di jalur, hanya di basecamp. Pastikan manajemen air yang baik.

3. Utamakan pendakian bersama kawan.

4. Camp area paling direkomendasikan adalah di Latar Babi hingga ke atasnya, yakni Puncak Awang-awang.

5. Kebutuhan porter dan guide bisa menghubungi nomor wa +62 857-9148-9817
(dd)

Adapun link video penakian tersebut.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Gajah Mungkur via Telogo

Gunung Penanggungan, memiliki beberapa anak gunung. Gunung Bekel dan Gunung Gajah Mungkur adalah dua puncak yang sebenarnya bisa jadi tujuan, jika ingin mencari destinasi selain Puncak Pawitra.

Pendakian gunung Gajah Mungkur hanya bisa diakses melalui jalur terdekat, yakni Telogo, Kunjorowesi, Ngoro, Mojokerto. Sebenarnya jalur Jolotundo pun bisa jadi pilihan untuk akses ke puncak Gajah Mungkur, namun konsekuensinya, akan memerlukan waktu yang lumayan lama.

Registrasi langsung ke PJT Telogo, (Penanggungan Jalur Telogo) yang dikelola oleh warga dan LMDH sebagai pemangku jalur ke Penanggungan.

Untuk tarif, sekitar Rp 10.000,00 sudah termasuk parkir kendaraan.

Akses menuju pos 1 didominasi oleh jalur batu, menanjak. Inilah ujian pertama pendakian, jalur menanjak hampir 60 derajat. Menuju pos 1, hanya memerlukan waktu kurang lebih 40 menit. Di pos 1 terdapat shelter dan warung.

Selanjutnya, akses melalui pertigaan, arah Penanggungan jalur ekstrim dan arah Candi Wayang.

Jalur menuju candi wayang cukup landai, memasuki hutan dan perkebunan warga. Sampai akhirnya melewati sungai kering, jalanan menanjak namun tidak terlalu tinggi. Beberapa saat akan menemukan pertigaan menuju Candi Kerajaan, menuju puncak Gunung Gajah Mungkur, namun tanpa melalui Candi Kama dan Candi Wayang.

Menuju pos Candi Wayang, akses landai, didominasi oleh tumbuhan alang-alang. Candi Wayang adalah salah satu candi dengan lahan terluas di sekitar jalur Telogo.

Candi Wayang, memiliki beberapa jalur, ada jalur ke Bekel, jalur Puncak Pawitra, dan tentu saja jalur ke Gajah Mungkur sekaligus Watu Jolang.

Dari Candi Wayang, menuju Candi Kama, menanjak. Di Candi Kama terdapat tempat pertapaan, mirip candi Kendalisodo namun dengan aksen bangunan yang lebih kecil.

Perjalanan dilanjutkan menuju pos Candi Watu Jolang, salah satu puncak gunung Gajah Mungkur. Di bawah Watu Jolang ada salah satu Candi, dan juga makam seorang Syeikh.

Di area Watu Jolang, lahan datar lumayan luas, pemandangan kota Pasuruan pun terlihat jelas.

Selanjutnya mengikuti arah plakat, menuju puncak Gunung Gajah Mungkur. Jalur melalu tumbuhan petai gunung dan kaliandra. Akses menuju puncak dipenuhi oleh material bekas candi yang berserakan. Berjalan beberapa saat, sampailah di puncak Gunung Gajah Mungkur 1048 Mdpl.

Area lahan datar di puncak cukup untuk 2 tenda. Lokasi yang menghadap langsung gunung Penanggungan, serta kota Pasuruan, sangat berkesan dan menarik untuk dikunjungi.

1. Pendakian hanya bisa diakses, terdekat melalui jalur Telogo.

2. Pastikan memakai peralatan gunung yang sesuai ketentuan.

3. Sumber air ada di pos pendaftaran.

4. Warung di pos 1.

5. Pastikan mengikuti petunjuk yang disediakan pengelola.

6. Tempat camp di Watu Jolang dan puncak.

7. Keperluan guide atau porter bisa akses wa +62 857-9148-9817 (add).

Link video pendakian.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Bekel via Candi Jolotundo

Perjalanan menuju Jolotundo, tempat wisata budaya nuansa Jawa, salah satu peninggalan kerajaan Majapahit di kaki gunung Penanggungan, diiringi dengan pemandangan khas hutan di sepanjang jalan. Menuju Jolotundo tidaklah sulit, dari Tamiajeng kita lurus mengikuti jalan aspal. Ada beberapa petunjuk jalan yang bisa dijadikan panutan.

Pendakian Gunung Bekel via Jolotundo adalah jalur yang cukup menarik, karena melewati beberapa pos berupa candi, mulai dari candi Jolotundo, candi Bayi, candi Putri, candi Pura, candi Naga.

Setelah menitipkan sepeda motor di tempat parkir, lanjut ke anak tangga, pos perizinan ada di atas, dekat dengan papan ukir Jolotundo.

Di pos perizinan, registrasi dikenakan biaya sebesar 10 ribu per orang. Adapun cek barang bawaan, pertanyaan terkait logistik, arahan singkat dari penjaga pos perizinan.

Setelah beres, maka perjalanan dimulai melalu gerbang pendakian. Pada awal pendakian, trek melalui hutan dengan pohon yang masih asri, adapun pohon-pohon besar, yang masih terjaga kelestariannya, sehingga ada nuansa kental mistis di sekitar lokasi awal pendakian.

Setengah jam kemudian, jalanan mulai keluar hutan. Ini menandakan bahwa pos pertama sudah dekat. Benar saja, pos warung menjadi tujuan awal pendakian. Di beberapa sudut jalan, ditemukan beberapa pertigaan, termasuk pertigaan dari jalur Kedungudi atau jalur kuno.

Trek mulai menanjak, melewati beberapa jalan naik. Debu menemani perjalanan, setidaknya beberapa tumbuhan petai gunung sudah mulai dihinggapi oleh kera Jawa.

Pos kedua nampak setelah 40 menit perjalan. Pos tersebut adalah candi Bayi, candi dengan tumpukan batu kecil dimana ada lahan datar yang cukup menampung beberapa tenda.

Setelah istirahat sejenak perjalanan dilanjutkan, melewati sungai kering. Adapun trek semakin menanjak, mungkin akan licin saat hujan karena didominasi tanah. Nampak dari kejauhan puncak gunung Bekel dan puncak Penanggungan yang tak kalah megah.

Pos selanjutnya adalah candi Putri. Di pos ini terdapat area datar yang cukup luas. Dari kejauhan nampak kota Pacet dan Trawas, gunung Welirang megah dari kejauhan.

Trek makin menanjak tanpa ampun, pendaki semakin jarang ditemukan, beda dengan jalur Tamiajeng.

Semakin menanjak perjalanan hingga beberapa saat sampai di pos berikutnya, candi Pura, persimpangan jalan menuju puncak Penanggungan dan puncak Bekel. Candi ini tidak begitu besar, namun ada sedikit area datar yang bisa dipakai camping.

Dari candi Pura, kami memilih me arah kiri, ke arah candi Naga 1,karena jika lurus, maka akan menuju trek gunung Penanggungan.

Candi Naga merupakan pos selanjutnya. Di sepanjang jalur, akan ditemukan beberapa reruntuhan yang sebenarnya candi namun tanpa nama. Di kejauhan nampak candi yang tidak diketahui jalurnya, bahkan ada dua candi yang tidak sempat kami kunjungi.

Candi Naga 1 adalah tempat yang juga memiliki area datar. Candi ini cukup besar, bangunannya mirip candi Putri atau candi di pos ketiga.

Jalur setelah candi Naga makin menanjak, karena ini adalah trek terakhir menuju puncak Bekel 1285 Mdpl.

Di sudut jalur, kami menemukan tanaman Edelweis yang masih bertahan, bahkan beberapa ada yang masih kami temui namun tidak berbunga.

Akhirnya kami mencapai area datar, pertanda kami sudah sampai di puncak Bekel. Di area puncak terdapat beberapa sisa bangunan tugu, adapun bendera dan petunjuk arah ke jalur candi yang paling utuh ukirannya di sekitar Jolotundo, candi Kendalisodo, dan jalur dari candi Pura langsung. Dari puncak Bekel ini nampak kota Ngoro industri, Trawas, Pacet Mojokerto.

Dari kejauhan puncak Penanggungan gagah menjulang diselimuti awan.

Area camp juga luas, sangat menarik jika bisa camp di area puncak Bekel 1285 Mdpl via Jolotundo, jalur yang penuh nuansa budaya, mistis, belajar kehidupan Jawa dengan segala ceritanya.

Tips pendakian Bekel.

1. Tidak ditemukan sumber air di sepanjang jalur, logistik air dari pos perizinan wajib dipenuhi.

2. Tetap ikuti jalur sesuai peta, jangan keluar jalur pendakian meski ditemukan percabangan.

3. Jalur Kendalisodo ditutup sementara karena ada perawatan situs purbakala, selain karena faktor keselamatan, jalur yang terlalu tegak. Jalur candi Naga lebih direkomendasikan.

4. Camp bisa di area puncak, pos warung, candi Bayi, candi Putri, candi Naga, candi Pura jika terpaksa.

5. Pastikan alat pendakian sesuai standar safety.

(add)

Link video pendakian kami

Kategori
Sebuah perjalanan

Kamping Terakhir di Gunung Welirang

Beberapa waktu lalu, perjalanan saya ke Welirang via Sumber Brantas, memberikan pengalaman baru bagi saya. Terlebih hal tersebut merupakan pengalaman kamping tertinggi yang pernah saya lakukan, mungkin dalam hidup saya.

Adapun lokasi dikenal sebagai Lapangan Goa Sriti, oleh para pendaki. Hal ini kami (tim) lakukan dengan pertimbangan situasi saat itu, dimana cuaca yang tidak menentu.

Memang, pencarian jalur bukanlah hal yang mudah saat kita tak paham kondisi. Kenapa tim melakukan ini? Atas dasar pengalaman anggota tim, membaca jalur, perizinan dari pengelola, dan tentu saja, hasil diskusi dengan tim.

Indikator itulah yang menjadi pertimbangan bagi kami. Saya terutama, belum menyadari sepenuhnya, di bawah puncak adalah tempat kamping yang direkomendasikan. Namun jika menilik dari lokasi dan jalur, sebenarnya gunung Welirang sendiri memiliki area datar yang cukup luas, meskipun pada jalur sekalipun. Hanya saja, pertimbangan dalam membaca situasi memang perlu dilakukan. Terlebih cuaca, ada beberapa bagian yang hujan, sebagian lokasi malah tidak hujan, itulah uniknya gunung Welirang via Sumber Brantas Cangar Batu.

Tempat kamping Lapangan atau Goa Sriti, dalam sejarah dikenal sebagai lokasi persinggahan terakhir orang Belanda zaman dulu. Ada beberapa selentingan cerita bahwa di lokasi, merupakan tempat singgah para penambang belerang.

Memang, melihat posisi gua yang tepat berada di bawah puncak, otomatis tempat ini sangat nyaman digunakan berteduh. Areal luas di depan gua pun sangat layak dijadikan tempat mendirikan tenda. Bahkan di beberapa lokasi, ditemukan air yang menggenang, dimana bisa menjadi sumber konsumsi, seandainya membawa filter. Saya sendiri mencoba meminum air tersebut, maklum saya sendiri tidak membaca informasi bahwa di jalur Sumber Brantas tidak ditemukan sumber air. Maka beberapa kebutuhan minum, saya memakai air tersebut, sekitar saya ambil satu botol aqua besar, karena teramat sangat jernih. Ada sedikit aroma belerang. Tentu saja, karena di sekitar lokasi tersebut, ketika angin berhembus, maka aroma belerang siap menemani.

Pada beberapa spot, ditemukan beberapa material batu berbentuk, layaknya pondasi bangunan yang terberai. Ada beberapa bekas perapian, baik di gua maupun di lahan kami mendirikan tenda. Meski begitu, banyak hewan yang juga hidup selayaknya saya temukan di kamp area lain, tikus, burung jalak, selayaknya tempat kamping gunung lain.

Suasana tenang, tak seperti area kamping di jalur lain, jalur Sumber Brantas Cangar Batu memang memiliki nilai tambah bagi yang doyan ketenangan. Saya sangat merekomendasikan, namun dengan syarat ya, saya garis bawahi ini, mempersiapkan air secukupnya, tenda doble layer, sleeping system yang baik. Mengapa begitu? Ya tentu saja, kamping di atas ketinggian, bukanlah hal yang patut kita anggap remeh. Saya sendiri tidak mau merasakan kedinginan selayaknya di Sabana Gunung Butak, atau gejala kedinginan di pos bayangan Gunung Anjasmoro. Hal ini patut diwaspadai, ingat, lokasi sudah di atas 3000 Mdpl. Intinya, persiapan yang matang memang perlu. Gunakan selalu perlengkapan sesuai kebutuhan, dan tentu saja tidak menciptakan kerepotan bagi Anda sendiri maupun tim.

Penasaran? Masih banyak sekali yang ingin saya bahas terkait jalur Sumber Brantas ini, mungkin di lain kesempatan. Tertarik? Silakan dicoba.

(add)

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Joko Mujung (Bukit Jengger) dari Jatirejo

Gunung Joko Mujung atau Bukit Jengger biasa disebut, merupakan salah satu puncak dari rangkaian gunung atau pegunungan Anjasmoro. Gunung yang terbentang dari kabupaten Jombang, Malang, dan Mojokerto, masih dalam kawasan hutan Tahura. Gunung yang sempat hits ini memang sangat cocok untuk pemanasan bagi yang ingin mendaki gunung yang lebih tinggi.

Untuk menuju ke basecamp pendakian, maka kita menuju desa Nawangan, Jatirejo, Mojokerto. Memang akses menuju lokasi tidaklah mudah, ada beberapa akses desa yang rusak di Jatirejo dan Nawangan. Jalan aspal yang mengelupas, tanah yang kadang menutupi jalan.

Setelah masuk lokasi parkir, otomatis pendakian bisa dimulai.

Perjalanan menuju pos pendaftaran, berjalan satu kilometer dari lokasi parkir. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara online via sipenerang.tahuraradensoerjo.or.id, atau bisa langsung ke lokasi dengan membawa kartu identitas dan biaya simaksi (jelas, ini resmi dari Tahura) sebesar Rp 10.000,00.

Setelah mendaftar, kita bisa melanjutkan perjalanan. Banyak ditemui warung yang sudah tidak terpakai sepanjang jalan menuju pos 1.

Akses jalur yang sangat jelas, membuat saya sendiri tidak khawatir. Tak jarang pula kita akan menemukan petunjuk jalur, tiap pos, bahkan sebelum pos.

Jalanan menanjak menuju pos 1, menguras tenaga ekstra. Ditambah jalan yang licin bekas hujan. Praktis, bukan hal yang patut kita remehkan, harus memakai sepatu trekking dan trekking pole atau tongkat.

Setelah pos 1, trek masih berupa hutan homogen, yang masih sering kita temukan pohon sengon dan petai hutan, adapun beberapa pohon jati dan pohon waru Jawa.

Menuju pos 2,ada beberapa jalur yang mulai tertutup cabang pohon dan ranting patah. Memang menurut beberapa keterangan dari pos pendaftaran dan tempat parkir, tempat ini mulai sepi dikunjungi pendaki. Akhirnya harus membuka jalur yang tertutup ranting tersebut. Jalur menanjak, dan pohon semakin berkurang. Sampailah di tempat agak lapang yang merupakan pos 2. Pemandangan bukit sebelah di depan mata, cukup indah. Yang saya tahu dari saat observasi, itu adalah lokasi di atas air terjun Selolapis Wonosalam. Nampak dari kejauhan, air terjun dadakan sisa air hujan malam kemarin. Memang, pegunungan Anjasmoro terkenal dengan sumber air yang berlimpah, khas pegunungan di Jawa Timur.

Perjalanan dimulai menuju pos 3, semakin menanjak, jalur yang ditemui yakni melewati beberapa bukit, hawa semakin panas.

Banyak lokasi sebagai tempat camping. Hanya saja saya kurang menyarankan jika mendirikan tenda di sekitar pos 3 ke atas, lokasi yang agak gundul, menjadikan tempat tersebut rawan untuk didirikan tenda.

Sampai di pos 3, tanjakan belum berakhir. Kita akan melewati ilalang yang mulai lebat bahkan seukuran orang dewasa. Yang patut kita waspadai ya jalur yang tidak terlalu lebar, pastilah kita harus teliti kondisi jalur tersebut agar lebih berhati-hati.

Setelah beberapa saat akhirnya sampai di puncak Bukit Jengger (Gunung Joko Mujung). Nampak dari puncak adalah kawasan pegunungan Anjasmoro dan beberapa puncaknya, yang paling fenomena adalah puncak Piramid yang masih menjadi misteri. Selain itu puncak Watu Jengger yang masih dirahasiakan, lebih tepatnya tidak bisa kita raih karena medannya yang masih sulit diakses.

Itulah sedikit cerita pendakian saya di Bukit Jengger (Gunung Joko Mujung).

Tips pendakian,

1. Hindari mendaki saat hujan, jalur terkenal licin dan pohon yang minim sehingga rawan angin.

2. Camping Ground usahakan sebelum pos 3.

3. Hindari perjalanan malam menuju basecamp.

4. Durasi normal pendakian 2 sampai 3 jam.

5. Pastikan ketersediaan air yang cukup, mengingat sumber air hanya di basecamp.

Link youtube pendakian kami.

Kategori
Sebuah perjalanan

Self Equipment, Alat Pendakian Semestinya Mandiri

Kebetulan saya mengalami pendakian solo hiking. Karena keterbatasan persiapan, rencana saya alihkan pada pendakian sendiri. Ini berarti segala kebutuhan saya lengkapi sendiri, mulai dari big three (tas, shelter, sleeping system) sampai logistik.

Dalam pendakian sendiri, kesiapan fisik yang perlu dipertimbangkan, terlebih alat merupakan senjata utama dalam melaksanakan itu. Pada intinya, baik konsep konvensional dan lainnya, entah itu ultralight hiking, semua memiliki inti yang sama. Segala peralatan dan logistik dipersiapkan sendiri. Dengan begitu, kita siap menghadapi segala situasi yang akan kita hadapi.

Pada akhirnya, setelah ngopi beberapa saat, saya memilih konsep ultralight. Mulai dari pemilihan big three, tas saya pilih seperlunya, tas tanpa frame. Selanjutnya shelter, saya pakai buatan uttara small tent (tarp tent). Sedangkan untuk sleeping system, saya mengawali dengan matras aluminium, sesuai kebutuhan saya, agar ringan dan stabil saat berjalan.

Bahkan konsep ini sudah teruji pada pendakian beberapa gunung, termasuk kamping di puncak Welirang, tepatnya di bawah puncak (goa Sriti). Dan alhamdulillah, semakin lama semakin terbiasa.

Pada intinya, tak perlu kita perdebatkan konsep mana yang lebih baik, hanya bergantung pada kebutuhan. Pun begitu, logistik, adalah tanggung jawab diri kita, tak mungkin kita menjadi manusia yang mengharap welas asih rekan atau manusia lain, malah justru sebaliknya, kita memberikan sebagian yang dimiliki untuk sesama. Hal tersebut adalah bentuk tanggung jawab pada diri kita sendiri, safety first sebagaimana apa yang kita lakukan, apa risiko yang kita hadapi, bukan masalah egois, namun seperti layaknya kehidupan, diri kita sendiri adalah tanggung jawab kita sendiri. Bukan begitu?

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Bukit Semar

Perjalanan tak pernah selesai. Pendakian kita kali ini yakni menuju Bukit Semar, Gondang, Mojokerto. Bukit yang terletak masih di kawasan kaki Gunung Anjasmoro.

Perjalanan dimulai menuju basecamp yang berada di halaman SD Dilem, Gondang. Kita akan disuguhi pemandangan desa, dengan bukit di sekitarnya. Hamparan pertanian penduduk di sekitar jalan, kanan kiri.

Sampailah di pos pendakian, perlu diketahui, pos ini berpindah lokasi lebih ke atas dari pos yang lama.

Pendakian menuju puncak Semar, memakan waktu kurang lebih 3 jam, melewati 4 pos, dengan sumber air terakhir di pos 2.

Perjalanan menuju pos 1, masih berupa jalanan datar, trek tanah becek, bekas hujan.

Hingga pada akhirnya, sampai di pos 2,yakni pos sumber mata air.

Di sini kita akan melwati beberapa trek basah termasuk sungai, bahkan sempat bertemu toilet darurat bagi yang berminat menjalankan kebutuhannya. Hehe

Perjalanan menuju pos 3 harus melalui sedikit perjuangan, maklum trek tidak bisa dikatakan mudah, mnanjak dengan bantuan tali webbing yang disediakan pengelola.

Menanjak selama 30 menit, sampailah di pos 3,dimana di pos tersebut kita akan menemukan jalur pertemuan dengan jalur menuju pabrik, kata pengelola.

Jangan heran bila banyak penduduk yang memakai motor melalui jalur itu, meski harus memutar agak jauh.

Perjalanan menuju pos 4 masih melalui variasi trek datar dan menanjak. Sekitar 20 menit perjalanan menuju pos 4 berupa shelter.

Sejenak beristirahat, sampai akhirnya perjalanan dimulai kembali, menuju puncak Semar dengan ketinggian 933 Mdpl. Cukup 25 menit saja, kita sudah disuguhi pemandangan indah pegunungan Anjasmoro.

Bukan ketinggian sebenarnya yang kita lihat, namun seberapa menantang trek yang dilalui, karena trek yang masih alami membuat nyali diuji.

Link pendakian youtube MT WJ Channel

(add).

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Welirang via Sumber Brantas Cangar Batu

Gunung Welirang, siapa yang tidak tahu nama gunung ini? Di kalangan pendaki, gunung ini amat terkenal, khususnya di kalangan pendaki Jatim. Gunung yang menjulang tinggi di kawasan Tahura R. A Soerjo Mojokerto, masih satu kawasan dengan beberapa deretan gunung seperti, Gunung Arjuno, Gunung Kembar 1,Gunung Kembar 2.

Kebanyakan para pendaki, mengenal jalur pendakian gunung tersebut, hanya bisa diakses melalu Tretes saja. Padahal, ada juga basecamp resmi lain di daerah Batu tepatnya Pos Perizinan Sumber Brantas Cangar Batu. Untuk akses lokasi, bisa ditemukan di google map atau kalau dari arah Batu Malang, bisa langsung menuju arah wisata Selecta atau pemandian air panas Cangar.

Basecamp ada di sebelah jalan raya Sumber Brantas Cangar.

Untuk mengurus perizinan hanya bisa diakses lewat website resmi Tahura, sipenerang.tahuraradensoerjo.or.id, yang nantinya harus dicetak, dengan membawa surat keterangan sehat dan fotokopi KTP. Bagi yang belum memiliki, harus memakai surat izin bermaterai dari wali.

Retribusi pendakian, sebesar 10 ribu per hari. Kami izin 2 hari sehingga dikenai tarif 20 ribu rupiah, plus parkir motor 10 ribu saja. Untuk akses jalan, menuju lokasi pos 1 sebaiknya menggunakan ojek motor, yang mana bila membutuhkan, bisa meminta saja pada petugas. Tarif pun cukup 20 ribu saja.

Pendakian dari Pos Perizinan nantinya akan melewati 3 pos, pos 1 (batas hutan dengan perkebunan), pos 2 (batas hutan lumut), dan pos 3 (hutan cemara dan cantigi).

Pendakian dimulai dengan naik ojek terlebih dahulu, dari basecamp ke gubuk terakhir sebelum pos 1. Pasalnya, jika kita jalan kaki maka waktu yang ditempuh menjadi 2 jam menuju pos 1. Sementara naik motor cuma 10 menit saja.

Setelah sampai di gubuk, perjalanan dilanjutkan menuju gerbang hutan, nampak plakat penanda masuk hutan Tahura. Untuk menuju pos 1 hanya memakan waktu 10 menit saja, dengan adanya penanda plakat di pohon sebagai bukti bahwa kita sudah sampai. Hutan cukup rapat, jalanan masih jelas meski agak rapat oleh tanaman paku-pakuan mulai menutupi akses jalan.

Sejenak di pos 1 kami lanjutkan ke pos 2. Jalanan yang akan dilalui adalah pohon yang menutup beberapa akses jalan. Jalanan juga masih jelas, sedikit percabangan namun masih bisa dibedakan dengan jalan utama. Sampai akhirnya melewati batas pepohonan, mulai memasuki kawasan tanaman cemara dan ilalang serta beberapa Edelweis yang memiliki aroma khas.

Setelah 2 jam, sampailah di pos 2. Vegetasi tidak terlalu rapat, malah lebih jarang ditemukan pohon besar.

Seberes mengisi perut, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 3 dengan kontur jalan yang mulai menanjak. Melewati beberapa tanjakan, akses jalan tanah mulai lembab. Di situ kami menemukan beberapa lutung Jawa dan hewan endemik lain semacam jalak dan burung hutan, bahkan ayam hutan sering melewati jalanan yang kami lalui.

Akhirnya, sampailah kami di pos 3, pos yang ditandai dengan pohon cemara besar yang tumbang.

Beberapa saat menata fisik, kami lanjutkan perjalanan. Sebenarnya di pos 3 ada percabangan jalan, ke kanan dan ke kiri. Yang kami pilih arah ke kiri karena tujuan kami hanyalah gunung Welirang, demi menghemat waktu, tidak ke Kembar 1 & 2. Adapun ini kami lakukan sesuai kesepakatan bersama dan menimbang waktu maka kami pilih akses jalan tersebut, yang sebenarnya adalah jalur lama. Pihak Tahura memang tidak mengizinkan kalau sebelumnya tidak pernah lewat. Namun salah satu teman pernah lewat, jadi tim kami diperbolehkan.

Benar saja, jalur memang lebih menanjak. Namun jalur tersebut setidaknya lebih singkat meski harus melewati beberapa pohon tumbang. Percabangan jalan pun, tidak terlalu membuat bingung. Terlihat Edelweis masih rapat di jalur ini, kemungkinan karena jarang dilewati pendaki.

Percabangan mulai membuat bingung saat akses menuju trek pertemuan dengan jalur penambang, namun hal tersebut kami akali dengan memberikan penanda tambahan berupa plastik yang kami ikatkan di ranting pohon. Setelah Watu Belah (kawasan tanaman rimbun berlumut), hingga jalanan menurun, pastikan melihat tanda botol mineral atau plastik yang disediakan oleh pendaki sebelum kami agar tidak salah jalur.

Setelah beberapa saat, kami akhirnya sampai pada jalur pertemuan dengan jalur Tretes. Kami melanjutkan perjalanan. Pecahan belerang yang jatuh di sekitar jalur menandakan bahwa kami berada pada jalur yang tepat. Sampai akhirnya sejam kemudian, tibalah kami di pos lapangan yang ditandai dengan adanya gua dan bekas pondasi bangunan (semacam bongkahan bangunan lama). Di situ kami temukan sisa sesajen yang mungkin bekas peziarah. Tak ada pendaki lain di situ, hanya kelompok kami saja. Bau belerang lumayan menyengat, apabila angin berhembus kencang.

Akhirnya tim kami memutuskan kamping di tempat tersebut.

Bermalam di pos lapangan memang sangat tepat, pastinya menikmati sunset serta nikmatnya bercengkrama di sekitar gua. Hanya saja tenda kami cuma bisa didirikan di lapangan, karena di halaman gua tanahnya cukup keras dan berbatu.

Summit puncak kami lakukan di pagi hari, benar saja kami kamping di bawah puncak. Menuju puncak pun cukup singkat, hanya 30 menit saja, sambil menikmati kabut pagi yang tidak pernah berhenti.

Akhirnya tim kami sampai di puncak, meski pemandangan tidak terlihat pagi itu karena tertutup kabut dan asap belerang. Puncak ditandai dengan tumpukan batu dan bendera Indonesia.

Itulah sedikit cerita pendakian kami di Gunung Welirang, Mojokerto.

Untuk link video pendakian kami ada di bawah (Youtube : MT WJ).

Part 1

Part 2

Part 3

Tips pendakian Gunung Welirang via Sumber Brantas Cangar.

1. Pastikan akses pendaftaran via website sipenerang.tahuraradensoerjo.or.id

2. Sumber air tidak ada, hanya di pos perizinan dan puncak jika hujan.

3. Lebih baik naik ojek menuju pos 1.

4. Siapkan alat pendakian dengan tepat, karena di jalur ini kita jarang bertemu pendaki lain.

5. Pastikan mengikuti petunjuk jalan, kecuali di pos 3 ikuti jalur ke kiri.

Estimasi waktu:

Basecamp – pos 1: 2 jam

Pos 1 – pos 2: 2 jam

Pos 2 – pos 3: 2 jam

Pos 3 – lapangan goa: 2 jam

Lapangan – puncak: 30 menit

(add).