Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puncak Gunung Lorokan (Sendi Pacet Mojokerto)

Mojokerto merupakan kabupaten dengan tempat wisata yang sangat banyak. Adapun beberapa tempat wisata berupa rekreasi alam, hiking, camping, dan spot alam yang menawan.

Di daerah Pacet, tepatnya daerah Sendi, terdapat kawasan wisata alam Pendakian Gunung Lorokan yang menawarkan pendakian dan wisata air terjun. Ini merupakan wisata yang menarik, mengingat tempatnya yang masih asri, yang mana beberapa spot masih merupakan kawasan/ habitat flora fauna. Untuk lokasi lebih tepatnya berada di depan wisata Wet Sendi 2. Adapun titik lokasi sebai berikut.

Google Map https://g.co/kgs/xFUUH5

Pendakian Gunung Lorokan dan Air Terjun dimulai dengan mendaftarkan diri di pos pendaftaran. Pendaftaran cukup dengan mengisi buku tamu dan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah per orang.

Rute awal masih cukup mudah, melewati kebun warga. Perlu diketahui, ada 2 rute yang bisa dilewati pada awal pendakian. Bisa lewat jalur atas dan jalur bawah. Menurut penulis, alangkah baiknya datang dan kembali dengan jalur yang berbeda, mengingat banyak spot yang berbeda di jalur pendakian tersebut.

Adapun kami memulai pendakian via jalur bawah. Jalur ini masih terkesan alami, dengan beberapa pohon besar. Tak ayal kami sering tertahan oleh akar-akar pohon yang melintang.

Sepuluh menit berjalan, akan kita lewati pos air terjun yang cukup indah.

Di sini kita bisa mengisi perbekalan, air yang nantinya bisa dimanfaatkan saat perjalanan.

Jalur setelah pos air terjun kembali menanjak. Namun oleh pengelola sudah diberikan kemudahan berupa anak tangga yang tertata rapi dari kayu. Melewati kawasan hutan bambu, sehingga menawarkan suasana yang cukup sejuk ketika melewati jalur.

Pos selanjutnya adalah pos 2. Di pos ini terdapat lahan yang datar dan luas. Adapun shelter yang disiapkan oleh pengelola sebagai musholla nantinya. Di pos ini juga merupakan akses termudah menuju pos 1 jalur atas,yang mana juga merupakan sumber air selain dari pos air terjun. Lokasinya yang dekat dengan mata air sangat direkomendasikan bagi pendaki untuk mendirikan shelter atau tenda.

Banyak fauna monyet atau kera ekor panjang di sini. Kera-kera ini masih terkesan tidak dekat dengan manusia. Bahkan penulis berharap keberadaan para pendaki tidak mengganggu aktivitas fauna tersebut, tidak memberikan apapun kepada satwa yang ada di sekitar lokasi pos 2, tidak meninggalkan apapun di lokasi.

Meninggalkan pos 2, perjalanan dilanjutkan kembali dengan menyusuri hutan pinus. Beberapa tumbuhan heterogen khususnya tanaman pinus mayoritas masih asri. Tak berselang lama kita akan sampai pada Pos Buuah Celing.

Trek selanjutnya kembali menanjak, akan melewati beberapa tanjakan – tanjakan yang diberi nama oleh pihak pengelola.

Tanjakan Bugingan, trek yang harus dilalui sebelum pos 3.Tak sebegitu menanjak, namun cukup menguras tenaga kami.

Godaan terbesar adalah trek yang tak selesai tanjakannya. Tentu saja, trek yang berupa tanjakan demi tanjakan masih belum selesai. Sampai akhirnya kita akan sampai pada pos 3.

Di setiap pos tentu saja kita akan menemukan tempat untuk bersantai yang mana sangat menggoda kami untuk berlama-lama di setiap pos. Begitu juga di pos 3, menghabiskan waktu beberapa menit untuk duduk dan menata nafas.

Samar-samar dari pos 3 kita akan melihat lokasi pos pendaftaran yang tingginya hampir sama.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Trek yang dilalui masih berupa tanjakan, kita menemukan tanjakan Raisa yang mana merupakan tanjakan terakhir sebelum punggungan, lahan datar sebelum puncak Gunung Lorokan.

Setelah melewati tanjakan ini, praktis kita sudah dekat dengan Puncak Lorokan. Lahan yang ada pun memanjang luas, kita akan leluasa memilih tempat berteduh atau mendirikan shelter.

Berjalan sepuluh menit sampailah di lokasi Puncak Lorokan 1100 Mdpl. Di lahan luas pyncak, banyak kita temukan kembali satwa kera ekor panjang dan ekor pendek. Mereka terkesan malu terhadap manusia, hanya mengawasi dari kejauhan.

Dari puncak kelihatan kawasan pegunungan Anjasmoro yang masih asri dan belum terjamah. Ada banyak satwa burung dan keanekaragaman hayati yang tentu saja sangat terjaga. Nampak dari kejauhan, kota Pacet dan sekitarnya kelihatan kecil.

Ketika kami melihat GPS ternyata titik puncak lebih tepatnya berada pada ketinggian 1054 Mdpl. Mungkin elevasi tersebut masih bisa berubah, dengan alat lain tentunya.

Itulah sekelumit cerita pendakian kami di puncak yang cukup indah pemandangannya, yakni puncak Gunung Lorokan 1100 Mdpl.

Tips pendakian Puncak Lorokan.

1. Pastikan membawa perlengkapan pendakian yang memenuhi kriteria keamanan saat mendaki.

2. Sumber air di pos air terjun dan pos 1 jalur atas.

3. Lokasi mendirikan shelter paling ideal di pos 2 dan sepanjang puncak,atau setelah melewati tanjakan Raisa.

4. Jangan sekali-kali memberikan makanan kepada satwa.

5. Untuk menuju pos pendakian, lebih tepatnya di daerah Sendi, depan wisata Wet Sendi 2.

6. Untuk menuju lokasi pos pendakian, upayakan memakai motor selain matik atau mobil selain matik, mengingat jalan yang naik dan menurun terjal dan curam.

Link youtube pedakian kami.

(add)

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Pundak via Pos Pendakian Puthuk Siwur Claket Pacet Mojokerto

Siapa yang tidak tahu Gunung Pundak? Jelas semua pecinta alam tidak asing dengan nama gunung ini. Gunung yang berlokasi di daerah Mojokerto, lebih tepatnya kaki Gunung Welirang ini, bisa diakses melalui 2 jalur, yakni via Claket Pacet, & via jalur OWA Tahura.

Gunung Pundak via pos pendakian Puthuk Siwur memiliki keunikan tersendiri, karena melalui kawasan hutan pinus yang cukup menarik sebagai spot berfoto.

Pendakian gunung Pundak via pos Puthuk Siwur dimulai dengan mendaftarkan diri pada pos pendakian di pintu masuk pendakian.

Pada masa pandemi, pendaki harus melalui prosedur kesehatan sebelum melaksanakan pendakian. Pada awal perjalanan, harus mencuci tangan dan cek suhu oleh petugas. Setelah dinyatakan baik, maka petugas akan mengizinkan perjalanan dilakukan, setidaknya setelah mengisi formulir pendaftaran.

Perjalanan dari pos pendaftaran menuju pos selfie batu besar dimulai dengan melalui tanjakan awal. Trek batuan yang ditata rapi oleh pengelola.

Berjalan 30 menit, tibalah di pos selfie. Pos yang berupa tanah sedikit lapang dan batu-batuan yang cukup besar. Perjalanan selanjutnya akan melewati hutan pinus.

Dari hutan pinus berjalan dengan melalui trek landai. Beberapa saat sampai di pos warung. Pos yang berupa lahan cukup luas, yang mana dikenal juga sebagai camp area. Di pos ini tersedia sumber air cukup berlimpah. Pos ini juga merupakan pos mata air terakhir bagi pendaki.

Trek selanjutnya akan melalui beberapa tanaman rumput gajah. Dari kejauhan akan nampak pemandangan daerah Pacet dan sekitarnya. Hamparan sabana juga mulai nampak, akan mengingatkan kita pada gunung – gunung yang pada umumnya ada di Jawa Timur.

Tak berapa lama, sampai di pos selanjutnya yang dinamai pos Goa Bebek. Di pos ini berupa tanah agak lapang, sebelum memasuki hutan terakhir.

Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki hutan yang cukup padat dengan trek yang mulai menanjak.

Tidak butuh waktu lama untuk melewati trek ini. Sekitar 30 menit kita akan sampai di tempat camp sekaligus puncak Puthuk Siwur. Pos ini cukup lapang dan tepat sebagai tempat camp area sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Pundak.

Perjalanan dilanjutkan dengan trek menanjak menuju perbatasan hutan yang merupakan wilayah Tahura. Trek akan melewati beberapa jalur air.

Tak ayal kita akan menemui genangan air yang cukup bersih, mengingat banyaknya kubangan yang berguna untuk menampung air hujan.

Setelah berjalan beberapa saat, melewati hutan bambu dan semak belukar. Trek dihadapkan pada tanah dan batuan yang cukup licin dan menguras tenaga. Kita akan menemukan beberapa tali webbing yang bisa dimanfaatkan untuk memudahkan dalam menanjak, mengingat jalur yang semakin terjal.

Setelah berusaha melewati satu bukit, kita akan disuguhi hamparan lahan yang cukup luas yang dimaksud sebagai puncak Gunung Pundak.

Di era pandemi, pendakian Gunung Pundak dibatasi, sehingga kita akan menemukan suasana yang nyaman, jauh dari keramaian.

Tips pendakian.

1. Jalur ini terkesan masih sepi, selalu waspada terhadap jalur yang disediakan, pahami penanda jalur yang disediakan.

2. Hormati kepercayaan sekitar.

3. Konon di jalur setelah puncak Puthuk Siwur adalah habitat bagi hewan liar. Maka dari itu, hindari kontak secara langsung.

4. Camp paling ideal adalah lahan di bawah Puthuk Siwur & lahan hutan sebelum puncak Gunung Pundak.

5. Pastikan ketersediaan air & logistik memadai.

6. Jaga sopan santun.

Link pendakian Gunung Pundak via pos pendakian Puthuk Siwur.

Add.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puncak Sarah Klopo (Anak Gunung Penanggungan) via Kedungudi (Jalur Situs Kuno)

Puncak Sarah Klopo adalah salah satu puncak yang ada di sekitar Penanggungan. Ini merupakan salah satu puncak yang sebenarnya berdekatan dengan puncak Bayangan.

Pendakian menuju puncak dengan ketinggian 1238 Mdpl tersebut, bisa diakses melalui jalur Kedungudi. Bisa juga diakses dari jalur Jolotundo. Namun pada pendakian kali ini, yang kita bahas adalah jalur Kedungudi Trawas Mojokerto.

Di jalur ini, tidak akan ada keramaian pendaki, kecuali hari Sabtu-Minggu. Ini sangat cocok sekali untuk petualang yang suka suasana tenang dan alami.

Pendakian puncak Sarah Klopo dimulai dengan mendaftar di pos pendaftaran. Untuk hari biasa, penjaga jarang stay sejak pagi. Untuk hari libur saja, penjaga pos akan stay di lokasi. Untuk itu, jika pendakian dilakukan pada hari biasa, maka bisa pesan kepada warung yang ada di sebelah pos, sekaligus penitipan motor.

Setelah mendaftar di pos pendakian, kita akan disuguhkan view langsung puncak Sarah Klopo, sekaligus puncak Pawitra. Di kejauhan juga nampak puncak Gunung Bekel sebagai anak gunung yang paling menonjol. Sebelum pos 1,kita akan melewati perkebunan warga berupa tanaman cabai, pohon apukat, dan beberapa tanaman yang tumbuh secara liar. Tak jarang kita akan menemukan beberapa warga yang membawa rumput pakan ternak dan yang merawat tanaman mereka.

Tak berapa lama, kita akan menemukan pos 1 yang sudah tak berbentuk. Hanya menyisakan tempat duduk namun tanpa plakat.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Masih melewati jalur makadam, yang mana cukup licin, karena melewati jalur tanah padat nan licin.

Sepintas, kita akan teringat pada jalur Jolotundo. Memang, jalur ini hampir sama, berdekatan, namun dengan suasana yang berbeda.

Akhirnya, sampai juga di pos 2. Pos tersebut merupakan persimpangan yang mana juga menghubungkan dengan jalur Jolotundo (bertemu di pos warung). Tanpa berhenti lama perjalanan pun dilanjutkan kembali. Jalur terkwsan landai memutari kebun warga. Jalur ditandai dengan penunjuk arah yang sangat jelas, meskipun sepi. Ini menandakan bahwa pengelolaan jalur cukup baik, mengingat sampah juga sangat jarang ditemukan sepanjang jalur. Kecuali sampah alami, seperti daun dan buah apukat jatuh.

Perjalanan menuju pos 3 melewati jalur tanah, juga kadang berbatu.

Melewati beberapa tanaman pisang, menandakan kita sudah sampai di pos 3. Di pos ini terdapat sebuah shelter sederhana. Dikelilingi oleh tanaman pisang dengan berbagai jenis, membuat keadaan semakin sejuk.

Perjalanan menantang dimulai semenjak pos 3. Jalur dihadapkan pada vegetasi yang mulai rimbun. Beberapa tanaman menjalar ke sepanjang jalur, menutup beberapa bagian yang mana kita harus menyibak beberapa cabang tanaman petai dan rumput.

Berselang sepuluh menit, sampai di sebuah sotus batu lumpang, dimana batu tersebut berbentuk lumpang yang terisi air. Konon kata warga, batu itu adalah batu yang sebenarnya berpasangan sehingga membentuk sebuah lingkaran dengan bentuk lingga.

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju pos selanjutnya. Tidak ada variasi tanaman, hanya vegetasi yang rimbun di beberapa jalur. Pepohonan pun masih nampak terjaga sepanjang perjalanan menuju pos Batu Lungguhan. Di pos ini, ada beberapa batu yang membentuk kursi dan meja.

Lahan datar di sekitar pos ini pun sangat luas. Bahkan sangat cukup untuk menampung beberapa tenda.

Perjalanan kembali menemui jalur menanjak. Jalur selanjutnya lebih dominan batu yang tertata secara alami.

Pos yang ditemui selanjutnya adalah Candi Carik. Ini yang menjadikan kekhasan tersendiri. Jalur situs kuno memiliki banyak Candi yang terjaga dengan baik. Disini akan kita temukan Candi yang berupa bangunan berundak, sama seperti candi yang ada di jalur Jolotundo, namun dengan bentuk yang lebih megah. Adapun di candi Carik, memiliki gaya seni yang mana di tiap potongan betu, ada alur yang terhubung satu dengan lainnya.

Tidak jauh dari Candi Carik, terdapat candi yang bernama Candi Lurah. Ini mengingatkan kita pada posisi struktural di desa. Mulai dengan struktur yang bawah hingga ke atasnya. Untuk wujud candi masih sama, berundak dengan motif seni yang berbeda.

Pos selanjutnya pun terlewati. Kita akan menemukan persimpangan kembali, ada percabangan jalur ke arah puncak dan ke arah Gunung Bekel. Perjalanan menemui jalur landai. Tidak berapa lama, di bawah jalur akan kita temui bangunan Candi Siwa.

Dengan bentuk yang juga sama berundak dan masih terawat dengan baik.

Perjalanan kembali menanjak, dengan batuan alami yang tertata.

Kembali kita akan menemukan candi Guru. Candi yang keempat di jalur pendakian ini.

Candi ini juga masih sama dengan bentuk candi sebelumnya. Khas dengan model berundak tertata rapi.

Pada beberapa candi sebenarnya bisa digunakan untuk camp dengan menjaga kebersihan dan kesopanan, berjarak dengan situs yang ada agar tetap bisa menjaga kelestarian situs.

Berjalan sesaat, kita akan menemukan persimpangan kembali, perempatan, ke atas adalah Candi Wisnu, ke kiri adalah gunung Bekel, dan ke arah kanan adalah Gunung Sarah Klopo.

Ketika melewati jalur ke puncak Sarah Klopo, kita akan melewati sedikit jalur, jalur yang dikenal dengan jalur kuno. Tidak kita sadari jalur tersebut terlewati, namun jika diamati dari kejauhan atau dari atas dengan camera drone, akan nampak jalur yang melingkar melewati setiap lereng gunung Penanggungan.

Ada beberapa jalur kuno yang sudah longsor sehingga kita akan dialihkan pada jalur yang lebih aman. Pada beberapa saat, kita akan melewati 2 kali Sungai Mati yang masih ditumbuhi beberapa pohon besar, sehingga cukup bisa dimanfaatkan sebagai sumber air ketika kita paham pemanfaatannya.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kita akan menemukan puncak Sarah Klopo. Di puncak ini terdapat lahan datar yang cukup luas. Disarankan ketika memilih untuk camp, tidak berada di daerah bawah pohon. Menurut warga, hal tersebut dikarenakan, tempat yang bertuliskan “Dilarang Camp” adalah habitat bagi hewan liar, yang mana untuk menjaga ekosistem hewan tersebut.

Puncak Sarah Klopo, puncak yang ada di gunung Penanggungan, dengan view jalur kuno yang cukup fenomenal.

Tips pendakian.

1. Usahakan pendakian di saat cuaca sedang bagus mengingat jalur ibi melewati beberapa sungai mati.

2. Pastikan Anda mematuhi penunjuk arah yang disediakan pengelola.

3. Gunakan perlengkapan yang sesuai dengan standar pendakian.

4. Jagalah kebersihan, mengingat jalur kuno adalah bagian dari situs Penanggungan.

5. Jagalah kelestarian candi, tidak mengubah apapun.

6. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi 081332965938.

Link video pendakian kami,

(add)

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Kemuncup (Anak Gunung Penanggungan) via Kunjorowesi

Gunung Kemuncup 1238 Mdpl, berada di jalur pendakian Kunjorowesi, masih sangat jarang didaki oleh para pecinta alam. Sejatinya, ada beberapa anak gunung Penanggungan yang masih asing di telinga kita.

Jalur pendakian gunung Penanggungan via Kunjorowesi menawarkan sebuah jalur yang mana terdapat dua rute, ke Penanggungan dan ke Gunung Kemuncup. Ini tentu saja sangat menarik, apaplagi bagi mereka yang punya sedikit waktu.

Pendakian gunung Kemuncup diawali dengan perjalanan menuju pos pendaftaran di desa Kunjorowesi. Ingat, di desa ini terdapat dua tempat pendaftaran kegiatan pendakian, yakni pos Tlogo dan pos Kunjorowesi. Maka yang perlu dituju adalah pos pendaftaran Kunjorowesi karena yang dituju dalam pendakian ini adalah puncak Kemuncup.

Setelah daftar diri dan parkir motor, gerbang pendakian terlihat jelas di sebelah tempat parkir. Rute yang dituju melewati permukiman penduduk. Memang, jalur ini terkesan masih sepi, namun sangat jelas dan aman, karena banyak terdapat petunjuk arah, baik menuju puncak Kemuncup dan puncak Penanggungan.

Pos kedua atau shelter pertama yang kita tuju adalah pos Watu Gede. Perjalanan menuju pos ini melewati jalanan makadam dan tanah. Trek yang variatif, masih melewati kebun warga. Jalur didominasi oleh tumbuhan kapas atau randu, bambu dan tanaman produktif.

Adapun banyak persimpangan di jalur ini. Namun sangat jelas petunjuk arah yang disediakan pengelola.

Sekitar 40 menit tibalah di pos Watu Gede atau pos kedua (shelter pertama).

Di pos ini, kurang begitu potensial untuk mendirikan tenda, kecuali terpaksa. Mengingat posisi pos yang miring, berupa dataran yang tidak luas.

Perjalanan dimulai kembali. Pos yang dituju adalah pos Mangga. Pos tersebut merupakan pos ketiga (shelter kedua). Perjalanan yang cukup lama, mengingat kita harus melewati jalan yang menanjak, sedikit bonus. Kita akan melihat waduk Posong dari kejauhan. Kemegahan sungai Brantas yang mengular, sangat nampak jelas dari jalur pendakian Kunjorowesi.

Ada hal yang menarik sekali, di jalur banyak ditemukan tumbuhan mangga. Bertepatan saat saya melakukan pendakian, banyak ditemukan buah mangga yang berjatuhan.

Setelah berjalan beberapa saat, tibalah di pos Mangga. Di pos ini terdapat sebuah shelter, dan beberapa tumbuhan buah mangga yang mayoritas sedang berbuah.

Banyak lahan datar di sepanjang jalur. Memang tidaklah luas, namun di sepanjang jalur menuju pos ini, banyak terdapat lahan datar yang cukup untuk mendirikan tenda jika terpaksa.

Perjalanan setelah pos ini makin menanjak, melewati hutan yang mulai rapat.Terpasang beberapa penanda. Melewati beberapa tanjakan yang ditata rapi dengan adanya penataan berupa anak tangga dari batu dan batang kayu. Saya pikir ini adalah jalur yang sangat potensial untuk dikelola, karena nampak jelas petunjuk berupa plakat di jalur ini. Kesan yang utama adalah tenang, bahkan sangat menyenangkan melewati jalur ini.

Tak butuh waktu lama, akhirnya sampai di pertigaan jalur, menuju puncak Pawitra dan puncak Kemuncup.

Setelah pertigaan ini, ditemukan sebuah gua batu yang banyak terdapat tetesan air. Ini merupakan alternatif jika kita membutuhkan air darurat. Meski terlihat cukup gelap, seperti peninggalan situs purbakala.

Dari gua, jalanan kembali menanjak. Menuju tanjakan puncak Kemuncup yang didominasi oleh tanaman petai gunung. Dari sini, nampak jelas, puncak gunung Penanggungan. Tak butuh waktu lama, tepat 2 jam, sampailah di puncak Kemuncup.

Puncak gunung Kemuncup berupa lahan datar yang tertutup tanaman. Adapun di beberapa lokasi terdapat batu putih dan beberapa benda purbakala. Di situ terdapat sebuah candi atau situs kuno berupa ukiran batu yang masih sangat jelas bentuknya.

Di lokasi lain terdapat batu yang mirip kura-kura. Menarik bukan?

Tips pendakian gunung Kemuncup.

1. Gunung Kemuncup terletak pada koordinat 7°37’02.0″S 112°37’44.0″E
Gn. Kemuncup, Hutan, Wonosunyo, Kec. Gempol, Pasuruan, Jawa Timur
https://goo.gl/maps/7cuGCjXrPhWnFZE96

2. Jagalah kebersihan lingkungan di sekitar gunung ini mengingat banyak benda purbakala yang harus dilestarikan.

3. Lokasi camp di sepanjang jalur menuju pos 3 dan puncak gunung Kemuncup.

4. Jangan ragu bertanya pada pengelola atau penduduk sekitar ketika membutuhkan informasi.

5. Alangkah baiknya membawa persediaan air mengingat tidak adanya sumber air di sepanjang jalur, kecuali di gua, itupun saat hujan.

6. Untuk keperluan, guide pendakian di nomor wa 083849623369.

Video pendakian kami.

Kategori
Sebuah perjalanan

Jelajah Air Terjun Coban Asmoro Jarak Wonosalam

Gunung Anjasmoro, pegunungan yang mencakup wilayah Jombang, Mojokerto, Kediri, Malang, terbentang luas. Pegunungan yang di kalangan pendaki memiliki banyak puncak, mulai dari puncak Jengger, puncak Cemoro Sewu, puncak Top Anjasmoro, puncak Kemukus, puncak Gede, puncak Tapak Bunder dan masih banyak puncak lain yang belum tersentuh.

Adapun beberapa air terjun yang mengalir di lereng pegunungan Anjasmoro, mulai dari air terjun Tretes yang berlokasi di Pengajaran, Banjardowo, Wonosalam Jombang, yang terkenal dengan luas dan ketinggiannya, Coban Talun, Coban Pengayom, Air Terjun Selolapis, Coban Sepukul, Coban Watu Ondo Cangar, Coban Baraan Kasembon, dan masih banyak lagi yang belum tersebut.

Pada kali ini penulis ingin membagi hasil eksplorasi ke daerah Jarak Wonosalam Jombang. Di daerah tersebut ternyata menyimpan sebuah harta tersembunyi, berupa destinasi wisata alam Air Terjun Coban Asmoro, atau Coban Grenjengan, atau mungkin disebutkan dengan nama lain yang penulis sendiri masih belum hafal. Pada air terjun ini, merupakan mata air bagi daerah Jarak dan sekitarnya , untuk itu mata air yang ada sangatlah jernih, karena masih satu kawasan dengan puncak tertinggi gunung Anjasmoro.

Untuk mengakses informasi terkait air terjun yang masih alami ini, kami mulai dengan GPS (gunakan penduduk sekitar), mengingat akses lokasi yang belum terkenal.

Pada saat sampai di pemukiman terakhir, langsung saja bertanya kepada penduduk untuk akses ke lokasi air terjun ini. Untuk selanjutnya bisa menitipkan motor atau kendaraan di rumah warga, tanpa tarif masuk, cukup parkir dengan biaya seikhlasnya.

Akses menuju lokasi masih dominan menanjak, melewati beberapa pertigaan. Namun di pertigaan tersebut, ada penunjuk arah, dominasi ke arah turun. Praktis pemandangan yang indah di depan mata, hutan yang masih asri, puncak-puncak bukit atau gunung.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, kita akan menemukan hutan bambu yang menandakan bahwa perjalanan semakin dekat dengan lokasi. Terdengar suara gemericik air dari kejauhan, dominan tanaman bambu dan jalur yang awalnya makadam berubah jadi tanah. Kita perlu berhati-hati saat di jalur ini, masih banyak Pacet dan tanaman gatal yang berada di sepanjang jalur.

Tak berapa lama, akhirnya tibalah di lokasi yang dituju. Coban setinggi kurang lebih 15 meter dari jatuhnya air. Anggun dan tegas, guratan batu di alur air pada didnding coban. Kanan kiri adalah tanaman pakis dan sebagian bambu, ada beberapa tanaman anggrek yang mana juga bagian dari usaha mahasiswa yang pernah KKN di tempat tersebut.

Tips hiking jelajah Coban Asmoro.

1. Sebaiknya jelajah pada saat tidak hujan.

2. Gunakan sepatu, menghindari gigitan pacet.

3. Selalu bertanya kepada warga, menghindari salah arah.

4. Penitipan sepeda atau motor di rumah warga.

5. Untuk keperluan guide bisa menghubungi wa +6285648655502 (Ridlo) atau +6283117738735 (Mas Iko)

(add)

Video jelajah kami.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puthuk Gragal dan Air Terjun ‘Mata Air 2’ via Cembor Pacet Mojokerto

Puthuk Gragal, mungkin sebuah tujuan pendakian yang masih jarang didengar. Puthuk ini sendiri memang baru saja dibuka oleh pengelola, sehingga namanya masih asing di kalangan pendaki.

Puthuk Gragal merupakan salah satu dari jajaran puthuk yang ada di kaki gunung Welirang. Pantas saja, ketika Anda sudah berada di puthuk ini, masih bisa melihat dengan jelas puncak Puthuk Siwur dan Gunung Pundak.

Puthuk Gragal dengan ketinggian sekitar 1480 Mdpl, terletak di sisi kiri Puthuk Siwur. Dengan namanya gragal, otomatis mewakili keadaan puthuk ini, yang berupa bebatuan yang ada di dataran tinggi.

Puthuk yang menawarkan view yang amat indah ini diakses melalui jalur pendakian via Cembor Pacet. Dari Pacet cukup ke daerah Claket, melewati gerbang wisata tetap lurus, sampai akhirnya di desa Cembor, ada tulisan Jalur Pendakian Puthuk Gragal.

Pendakian Puthuk Gragal dimulai melalui masjid Cembor, kita parkir motor, tak jauh dari masjid tersebut. Kemudian kita harus mendaftarkan diri ke pihak pengelola yang kantornya sementara ada di bawah masjid. Untuk tarif per orang Rp 10.000,00 dan parkir motor juga dengan tarif yang sama.

Pada awal jalur pendakian kita melewati lingkungan warga, naik sedikit ke arah saluran air. Kita akan menemukan vegetasi bambu di kiri jalan. Di kanan jalan terdapat selokan air yang terjaga kebersihannya. Kami pun dipesani oleh pengelola agar tidak membuang sampah atau kencing di sekitar saluran air.

Melewati jalur datar hingga melewati jelmbatan sungai besar, berarti kita sudah dekat dengan pos satu. Kita akan melewati jalur menanjak, ada tulisan pos satu Watu Ceper.

Tak berhenti lama, kami lanjutkan perjalanan. Jalur mulai agak menanjak, medan pendakian melewati vegetasi hutan yang masih asri. Beberapa kesempatan kami melihat satwa malam, memang jalur ini masih terkesan alami jarena baru dibuka. Saat berjalan kita akan mendengar gemericik suara air, karena dekat dengan sungai.

Perjalanan menuju pos 2 memang lebih menyuguhkan jalur yang menantang. Vegetasi yang cukup rapat, menandakan kita melewati bukit Sambilu. Pos 2 sudah terlihat, tanah datar yang tepat untuk area camp atau beristirahat sejenak.

Trek kembali menantang, menghadirkan tanjakan yang dinamai dengan Tanjakan OPO. Tanjakan ini hampir miring sekitar 45-60 derajat, otomatis kita akan bertanya, “Kenapa kita harus melewati tanjakan ini?”

Tapi tenang saja, pihak pengelola sudah membantu pendaki dengan alternatif jalur tanjakan zig zag yang lebih mudah daripada harus melewati tanjakan OPO.

Trek yang menanjak tak berhenti di situ. Setelah melewati tanjakan OPO, kita disuguhi jalur butan Genjret yang cukup melelahkan. Di jalur ini benar-benar menghadirkan jalur yang seharusnya lebih mirip jalur ke puncak gunung, bukannya puthuk.

Berjalan beberapa saat melalui tanjakan yang melelahkan, kami sampai di pos 3 hutan Genjret.

Di pos ini, kita bisa bersantai sejenak. Adapun bila membutuhkan air, kami menemukan sebuah pipa yang berlubang dengan aliran air yang cukup deras. Biasanya pipa tersebut dipakai oleh pendaki untuk mengisi air menggunakan selang kecil yang ada di sekitar lokasi.

Tanjakan demi tanjakan masih juga kami temukan. Sejenak trek datar lalu sudah menanjak kembali.

Berjalan beberapa saat kami tiba di sebuah tanah datar menandakan bahwa kami sudah sampai di pos 4, pos tanjakan Celeng. Di pos tersebut akan kita temui jalur ke bawah menuju mata air dua (air terjun), namun oleh pihak pengelola hanya disarankan mengisi air saat pagi saja, trek menuju lokasi air sangat licin dan menantang.

Tanjakan Celeng benar-benar berupa tanjakan yang tidak ada hentinya. Tanjakan ini sangat menguras tenaga. Beberapa kali kami terpeleset di tanjakan ini. Ketika melewati tanjakan inj, vegetasi berubah yang tadinya rimbun menjadi agak berkurang, hingga angin malam benar-benar terasa kencang saat kita lewati .

Akhirnya, setelah perjuangan tersebut, sampailah di lahan datar berupa area Camp.

Di area ini kami mendirikan tenda, meski kontur tanah bervariasi, mulai dari yabg datar, setengah datar, dan miring. Kita harus jeli memilih lokasi mendirikan tenda, agar tidur tetap nyaman. Sebenarnya lokasi camp ini sudah dekat dengan puncak, namun disarankan oleh pengelola agar mendirikan tenda di area camp menghindari angin kencang.

Sejenak kami berfoto mengambil gambar pemandangan yang cukup mewah, dari kejauhan tampak Penanggungan dan belakang nampak Welirang dengan gagah menjulang.

Spot foto yang teramat luas, tak ada habisnya. Pantas saja, perjuangan yang sudah dilalui memang menghasilkan sesuatu yang nampak amat memuaskan bagi kami.

Adapun pada perjalanan kami sempatkan menuju lokasi air terjun di pos 4. Memang air terjun tersebut sangat indah, dengan air yang sangat jernih dan suasana yang sejuk.

“Puthuk dengan perjalanan rasa gunung”, memang tepat kami sematkan julukan tersebut pada Puthuk Gragal. Puthuk yang menarik, menawarkan keindahan yang tiada tara.

Tips pendakian Puthuk Gragal.

1. Hampir di semua trek kami temukan mata air, apalagi jika perjalanan dilakukan di pagi hari. Batas mata air ada di pos 4, untuk itu penting sekali mengisi persediaan air selagi ada di pos 4.

2. Lokasi camp terakhir ada di camp area sebelum puncak.

3. Hindari mendirikan tenda di puncak, mengingat angin kencang yang sangat membahayakan bagi pendaki.

4. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi pihak pengelola.

5. Keterbutuhan guide dan porter bisa menghubungi wa +6283117738735 dan nomor wa 083849623369 .

Untuk video pendakian pada link youtube berikut.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Puncak Awang-awang Penanggungan via Kesiman

Gunung Penanggungan merupakan gunung favorit para pendaki di Jawa Timur. Gunung yang terletak di kabupaten Mojokerto & Pasuruan ini memiliki beberapa jalur pendakian, baik jalur Jolotundo & Tamiajeng yang sudah cukup dikenal. Adapun jalur lain yang masih belum begitu familiar yakni jalur Kesiman, jalur Tlogo, jalur Kunjorowesi, dan jalur Kedungudi.

Jalur yang akan kita lewati kali ini adalah jalur Kesiman yang berada di Dusun Sukoreno, Desa Kesiman, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Jalur ini terkesan masih sepi, bahkan pada hari libur sekalipun. Jadi, sangat direkomendasikan bagi pendaki yang ingin mendaki gunung Penanggungan, melewati jalur ini, bagi yang ingin bercengkrama dengan suasana yang syahdu.

Di awal perjalanan, trek melewati bekas galian & lahan pertanian warga. Kami mengikuti petunjuk yang ada, plakat dan penunjuk arah dari plastik dan plakat yang disediakan pengelola Treppa Jr.

Suasana siang itu cukup panas, awal pendakian melewati lahan yang didominasi ilalang yang cukup luas Adapun dari basecamp, tempat parkir, pos yang kami tuju pertama kali adalah pos Nomor Siji. Penamaan pos di jalur ini memang aneh, penamaan pos di sana agak berbeda dari pada jalur Penanggungan yang lainnya.

Dari pos Nomor Siji, perjalanan masih melalui trek yang landai, namun tidak begitu terik jalurnya, mulai ada pepohonan di sepanjang jalur. Pada kanan kiri jalan, didominasi oleh tumbuhan bambu dan pohon randu yang cukup rindang.

Setelah berjalan sepuluh menit dari pos Nomor Siji, sampailah kami di pos Leses. Di pos ini, terdapat shelter yang disediakan oleh pihak pengelola.

Setelah pos Leses, jalur mulai agak menanjak. Trek masih berupa tanah dengan variasi beberapa kerikil yang cukup membuat licin jika terinjak sepatu. Berjalan sesaat, akhirnya sampai di pos Marhalan yang tak jauh dari pos Leses. Di pos tersebut tidak kita temui shelter, hanya batang pohon roboh sebagai tempat duduk sejenak.

Perjalanan dilanjutkan, setelah itu kita akan memasuki hutan bambu. Pada perjalanan, fokus pendaki pada petunjuk arah harus tetap terjaga. Hal ini karena banyak perempatan ke arah gunung dan bukit di sekitar Penanggungan.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Tidak butuh waktu lama, kami sampai di pos Sinceng. Di pos ini terdapat perempatan ke arah sungai kering dan bukit sekitar Penanggungan.

Setelah berjalan melewati pos Sinceng, rasanya seakan trek tidak ada hentinya. Kalau kita merasakan, memang perjalanan terkesan cukup panjang. Trek yang menanjak mendominasi sejak pos Sinceng. Dari pos tersebut, tak butuh waktu lama. Akhirnya sampailah kami di pos 1 yang sebenarnya. Di pos ini terdapat lahan yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Dominasi trek selanjutnya tetap menanjak. Hal ini tidak bisa dipungkiri. Bahkan trek ini lebih sensitif jika dipijak daripada trek sebelumnya. Seringkali trek tersebut membuat pendaki terpeleset.

Beberapa tanjakan terkesan masih wajar. Memang tergolong sebagai trek yang tidak sederhana. Daun yang menutupi trek terkadang membuat pijakan kurang mencengkram tanah dan kerikil yang akhirnya membuat keseimbangan tubuh kurang baik.

Setelah berjalan sesaat, akhirnya kami sampai di pos Dangcici. Di pos tersebut tidak ada shelter, hanya lahan datar yang tidak terlalu luas.

Di atas pos Dangcici, terdapat sebuah petilasan di tepi trek. Kami tidak lama di sini, karena yang kami rasakan agak lain. Bahkan terkadang rasanya suasana cenderung tidak seperti yang kami inginkan.

Beberapa saat kami berjalan dari pos sebelumnya, berjalan 30 menit, kami sampai di pos Sebacang. Di pos ini tidak terdapat lahan yang luas, hanya sedikit datar namun sejuk karena terdapat pohon yang rindang.

Tak lama berjalan, kami sampai di pos 2. Pos ini memberikan petunjuk kepada kami bahwa tanjakan selanjutnya adalah tanjakan yang diberi nama Tanjakan Idiot.

Benar saja, memang petunjuk tak pernah bohong. Ujian yang sesungguhnya dimulai. Kami dihadapkan pada sebuah plakat, petunjuk plakat arah tanjakan Idiot. Memang benar-benar dikuras tenaga kami di tanjakan ini. Trek berubah, melewati batuan yang menjadi jalan yang cukup licin.

Trek berbatu di tanjakan Idiot cukup melelahkan. Hampir terpeleset beberapa kali, kami berjalan dengan hati-hati. Di tanjakan ini, batuan yang dilewati cukup tajam, maka dari itu harus waspada saat berjalan.

Setelah berjalan sesaat, kami melewati latar Babi yang sangat direkomendasikan sebagai tempat camp, karena di tempat ini terdapat lahan bertingkat yang cukup datar dan luas.

Adapun tempat camp di atasnya, pos Selo Munggal yang memang disediakan area camp bagi pendaki. Mungkin hal tersebut untuk mengantisipasi keberadaan para pendaki, agar tidak berdesakan pada saat mendirikan tenda.

Perjalan yang kami hadapi belum berakhir. Suhu saat itu panas, apalagi jalan semakin menanjak, melewati beberapa tumbuhan Edelweis putih. Akhirnya kami melewati tanjakan sebelum puncak, yang memang menawarkan keindahan pemandangan kota di sisi lain gunung Penanggungan. Tak butuh waktu lama. Kami tiba di Puncak Awang-awang Penanggungan dengan selamat.

Perlu diketahui, Puncak Awang-awang memiliki banyak tempat camp, bahkan di atasnya terdapat tempat lahan datar untuk mendirikan tenda. Dari Puncak Awang-awang terlihat puncak gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno Welirang dari kejauhan.

Sejenak kami berfoto dan melepaskan lelah. Menikmati snanck dan minuman ringan sambil melihat pemandangan kota yang terlihat sangat kecil dari sini.

Jalur Kesiman Prigen adalah jalur yang cukup menarik dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan jalur ini memang sangat menarik untuk dicoba. Terlebih, semakin membludaknya pendaki via jalur lain, maka perlu untuk mempertimbangkan jalur Penanggungan via Kesiman Prigen lewat Puncak Awang-awang ini, apabila ingin suasana tenang dan sepi, serta pengalaman jalur yang menantang untuk dilalui.

Tips pendakian.

1. Hindari pendakian malam hari.

2. Tidak ada sumber air di jalur, hanya di basecamp. Pastikan manajemen air yang baik.

3. Utamakan pendakian bersama kawan.

4. Camp area paling direkomendasikan adalah di Latar Babi hingga ke atasnya, yakni Puncak Awang-awang.

(dd)

Adapun link video penakian tersebut.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Gajah Mungkur via Telogo

Gunung Penanggungan, memiliki beberapa anak gunung. Gunung Bekel dan Gunung Gajah Mungkur adalah dua puncak yang sebenarnya bisa jadi tujuan, jika ingin mencari destinasi selain Puncak Pawitra.

Pendakian gunung Gajah Mungkur hanya bisa diakses melalui jalur terdekat, yakni Telogo, Kunjorowesi, Ngoro, Mojokerto. Sebenarnya jalur Jolotundo pun bisa jadi pilihan untuk akses ke puncak Gajah Mungkur, namun konsekuensinya, akan memerlukan waktu yang lumayan lama.

Registrasi langsung ke PJT Telogo, (Penanggungan Jalur Telogo) yang dikelola oleh warga dan LMDH sebagai pemangku jalur ke Penanggungan.

Untuk tarif, sekitar Rp 10.000,00 sudah termasuk parkir kendaraan.

Akses menuju pos 1 didominasi oleh jalur batu, menanjak. Inilah ujian pertama pendakian, jalur menanjak hampir 60 derajat. Menuju pos 1, hanya memerlukan waktu kurang lebih 40 menit. Di pos 1 terdapat shelter dan warung.

Selanjutnya, akses melalui pertigaan, arah Penanggungan jalur ekstrim dan arah Candi Wayang.

Jalur menuju candi wayang cukup landai, memasuki hutan dan perkebunan warga. Sampai akhirnya melewati sungai kering, jalanan menanjak namun tidak terlalu tinggi. Beberapa saat akan menemukan pertigaan menuju Candi Kerajaan, menuju puncak Gunung Gajah Mungkur, namun tanpa melalui Candi Kama dan Candi Wayang.

Menuju pos Candi Wayang, akses landai, didominasi oleh tumbuhan alang-alang. Candi Wayang adalah salah satu candi dengan lahan terluas di sekitar jalur Telogo.

Candi Wayang, memiliki beberapa jalur, ada jalur ke Bekel, jalur Puncak Pawitra, dan tentu saja jalur ke Gajah Mungkur sekaligus Watu Jolang.

Dari Candi Wayang, menuju Candi Kama, menanjak. Di Candi Kama terdapat tempat pertapaan, mirip candi Kendalisodo namun dengan aksen bangunan yang lebih kecil.

Perjalanan dilanjutkan menuju pos Candi Watu Jolang, salah satu puncak gunung Gajah Mungkur. Di bawah Watu Jolang ada salah satu Candi, dan juga makam seorang Syeikh.

Di area Watu Jolang, lahan datar lumayan luas, pemandangan kota Pasuruan pun terlihat jelas.

Selanjutnya mengikuti arah plakat, menuju puncak Gunung Gajah Mungkur. Jalur melalu tumbuhan petai gunung dan kaliandra. Akses menuju puncak dipenuhi oleh material bekas candi yang berserakan. Berjalan beberapa saat, sampailah di puncak Gunung Gajah Mungkur 1048 Mdpl.

Area lahan datar di puncak cukup untuk 2 tenda. Lokasi yang menghadap langsung gunung Penanggungan, serta kota Pasuruan, sangat berkesan dan menarik untuk dikunjungi.

1. Pendakian hanya bisa diakses, terdekat melalui jalur Telogo.

2. Pastikan memakai peralatan gunung yang sesuai ketentuan.

3. Sumber air ada di pos pendaftaran.

4. Warung di pos 1.

5. Pastikan mengikuti petunjuk yang disediakan pengelola.

6. Tempat camp di Watu Jolang dan puncak.

7. Keperluan guide atau porter bisa akses wa +62 857-9148-9817 (add).

Link video pendakian.

Kategori
Sebuah perjalanan

Pendakian Gunung Bekel via Candi Jolotundo

Perjalanan menuju Jolotundo, tempat wisata budaya nuansa Jawa, salah satu peninggalan kerajaan Majapahit di kaki gunung Penanggungan, diiringi dengan pemandangan khas hutan di sepanjang jalan. Menuju Jolotundo tidaklah sulit, dari Tamiajeng kita lurus mengikuti jalan aspal. Ada beberapa petunjuk jalan yang bisa dijadikan panutan.

Pendakian Gunung Bekel via Jolotundo adalah jalur yang cukup menarik, karena melewati beberapa pos berupa candi, mulai dari candi Jolotundo, candi Bayi, candi Putri, candi Pura, candi Naga.

Setelah menitipkan sepeda motor di tempat parkir, lanjut ke anak tangga, pos perizinan ada di atas, dekat dengan papan ukir Jolotundo.

Di pos perizinan, registrasi dikenakan biaya sebesar 10 ribu per orang. Adapun cek barang bawaan, pertanyaan terkait logistik, arahan singkat dari penjaga pos perizinan.

Setelah beres, maka perjalanan dimulai melalu gerbang pendakian. Pada awal pendakian, trek melalui hutan dengan pohon yang masih asri, adapun pohon-pohon besar, yang masih terjaga kelestariannya, sehingga ada nuansa kental mistis di sekitar lokasi awal pendakian.

Setengah jam kemudian, jalanan mulai keluar hutan. Ini menandakan bahwa pos pertama sudah dekat. Benar saja, pos warung menjadi tujuan awal pendakian. Di beberapa sudut jalan, ditemukan beberapa pertigaan, termasuk pertigaan dari jalur Kedungudi atau jalur kuno.

Trek mulai menanjak, melewati beberapa jalan naik. Debu menemani perjalanan, setidaknya beberapa tumbuhan petai gunung sudah mulai dihinggapi oleh kera Jawa.

Pos kedua nampak setelah 40 menit perjalan. Pos tersebut adalah candi Bayi, candi dengan tumpukan batu kecil dimana ada lahan datar yang cukup menampung beberapa tenda.

Setelah istirahat sejenak perjalanan dilanjutkan, melewati sungai kering. Adapun trek semakin menanjak, mungkin akan licin saat hujan karena didominasi tanah. Nampak dari kejauhan puncak gunung Bekel dan puncak Penanggungan yang tak kalah megah.

Pos selanjutnya adalah candi Putri. Di pos ini terdapat area datar yang cukup luas. Dari kejauhan nampak kota Pacet dan Trawas, gunung Welirang megah dari kejauhan.

Trek makin menanjak tanpa ampun, pendaki semakin jarang ditemukan, beda dengan jalur Tamiajeng.

Semakin menanjak perjalanan hingga beberapa saat sampai di pos berikutnya, candi Pura, persimpangan jalan menuju puncak Penanggungan dan puncak Bekel. Candi ini tidak begitu besar, namun ada sedikit area datar yang bisa dipakai camping.

Dari candi Pura, kami memilih me arah kiri, ke arah candi Naga 1,karena jika lurus, maka akan menuju trek gunung Penanggungan.

Candi Naga merupakan pos selanjutnya. Di sepanjang jalur, akan ditemukan beberapa reruntuhan yang sebenarnya candi namun tanpa nama. Di kejauhan nampak candi yang tidak diketahui jalurnya, bahkan ada dua candi yang tidak sempat kami kunjungi.

Candi Naga 1 adalah tempat yang juga memiliki area datar. Candi ini cukup besar, bangunannya mirip candi Putri atau candi di pos ketiga.

Jalur setelah candi Naga makin menanjak, karena ini adalah trek terakhir menuju puncak Bekel 1285 Mdpl.

Di sudut jalur, kami menemukan tanaman Edelweis yang masih bertahan, bahkan beberapa ada yang masih kami temui namun tidak berbunga.

Akhirnya kami mencapai area datar, pertanda kami sudah sampai di puncak Bekel. Di area puncak terdapat beberapa sisa bangunan tugu, adapun bendera dan petunjuk arah ke jalur candi yang paling utuh ukirannya di sekitar Jolotundo, candi Kendalisodo, dan jalur dari candi Pura langsung. Dari puncak Bekel ini nampak kota Ngoro industri, Trawas, Pacet Mojokerto.

Dari kejauhan puncak Penanggungan gagah menjulang diselimuti awan.

Area camp juga luas, sangat menarik jika bisa camp di area puncak Bekel 1285 Mdpl via Jolotundo, jalur yang penuh nuansa budaya, mistis, belajar kehidupan Jawa dengan segala ceritanya.

Tips pendakian Bekel.

1. Tidak ditemukan sumber air di sepanjang jalur, logistik air dari pos perizinan wajib dipenuhi.

2. Tetap ikuti jalur sesuai peta, jangan keluar jalur pendakian meski ditemukan percabangan.

3. Jalur Kendalisodo ditutup sementara karena ada perawatan situs purbakala, selain karena faktor keselamatan, jalur yang terlalu tegak. Jalur candi Naga lebih direkomendasikan.

4. Camp bisa di area puncak, pos warung, candi Bayi, candi Putri, candi Naga, candi Pura jika terpaksa.

5. Pastikan alat pendakian sesuai standar safety.

6. Info porter +6285791489817

(add)

Link video pendakian kami

Kategori
Sebuah perjalanan

Kamping Terakhir di Gunung Welirang

Beberapa waktu lalu, perjalanan saya ke Welirang via Sumber Brantas, memberikan pengalaman baru bagi saya. Terlebih hal tersebut merupakan pengalaman kamping tertinggi yang pernah saya lakukan, mungkin dalam hidup saya.

Adapun lokasi dikenal sebagai Lapangan Goa Sriti, oleh para pendaki. Hal ini kami (tim) lakukan dengan pertimbangan situasi saat itu, dimana cuaca yang tidak menentu.

Memang, pencarian jalur bukanlah hal yang mudah saat kita tak paham kondisi. Kenapa tim melakukan ini? Atas dasar pengalaman anggota tim, membaca jalur, perizinan dari pengelola, dan tentu saja, hasil diskusi dengan tim.

Indikator itulah yang menjadi pertimbangan bagi kami. Saya terutama, belum menyadari sepenuhnya, di bawah puncak adalah tempat kamping yang direkomendasikan. Namun jika menilik dari lokasi dan jalur, sebenarnya gunung Welirang sendiri memiliki area datar yang cukup luas, meskipun pada jalur sekalipun. Hanya saja, pertimbangan dalam membaca situasi memang perlu dilakukan. Terlebih cuaca, ada beberapa bagian yang hujan, sebagian lokasi malah tidak hujan, itulah uniknya gunung Welirang via Sumber Brantas Cangar Batu.

Tempat kamping Lapangan atau Goa Sriti, dalam sejarah dikenal sebagai lokasi persinggahan terakhir orang Belanda zaman dulu. Ada beberapa selentingan cerita bahwa di lokasi, merupakan tempat singgah para penambang belerang.

Memang, melihat posisi gua yang tepat berada di bawah puncak, otomatis tempat ini sangat nyaman digunakan berteduh. Areal luas di depan gua pun sangat layak dijadikan tempat mendirikan tenda. Bahkan di beberapa lokasi, ditemukan air yang menggenang, dimana bisa menjadi sumber konsumsi, seandainya membawa filter. Saya sendiri mencoba meminum air tersebut, maklum saya sendiri tidak membaca informasi bahwa di jalur Sumber Brantas tidak ditemukan sumber air. Maka beberapa kebutuhan minum, saya memakai air tersebut, sekitar saya ambil satu botol aqua besar, karena teramat sangat jernih. Ada sedikit aroma belerang. Tentu saja, karena di sekitar lokasi tersebut, ketika angin berhembus, maka aroma belerang siap menemani.

Pada beberapa spot, ditemukan beberapa material batu berbentuk, layaknya pondasi bangunan yang terberai. Ada beberapa bekas perapian, baik di gua maupun di lahan kami mendirikan tenda. Meski begitu, banyak hewan yang juga hidup selayaknya saya temukan di kamp area lain, tikus, burung jalak, selayaknya tempat kamping gunung lain.

Suasana tenang, tak seperti area kamping di jalur lain, jalur Sumber Brantas Cangar Batu memang memiliki nilai tambah bagi yang doyan ketenangan. Saya sangat merekomendasikan, namun dengan syarat ya, saya garis bawahi ini, mempersiapkan air secukupnya, tenda doble layer, sleeping system yang baik. Mengapa begitu? Ya tentu saja, kamping di atas ketinggian, bukanlah hal yang patut kita anggap remeh. Saya sendiri tidak mau merasakan kedinginan selayaknya di Sabana Gunung Butak, atau gejala kedinginan di pos bayangan Gunung Anjasmoro. Hal ini patut diwaspadai, ingat, lokasi sudah di atas 3000 Mdpl. Intinya, persiapan yang matang memang perlu. Gunakan selalu perlengkapan sesuai kebutuhan, dan tentu saja tidak menciptakan kerepotan bagi Anda sendiri maupun tim.

Penasaran? Masih banyak sekali yang ingin saya bahas terkait jalur Sumber Brantas ini, mungkin di lain kesempatan. Tertarik? Silakan dicoba.

(add)